Observasi : Peran Metode Learner Center
Tugas mini proyek Kelompok 4
Rhesya Nurvianty 16-029
Sri Ulfa 16-040
Nada Salsabila 16-043
Risti Devi
Mawarny 16-044
Muftyanti
Arishwandini 16-065
Shyntia E. Putri
Pasaribu 16-073
Angel Muliana
Tumanggor 16-074
Topik : Peran
Motivasi dalam proses belajar pada siswa SD dan pengaplikasian Learner Center
pada siswa
Judul : Peran metode Learner Center dan Motivasi
pada Anak Usia Sekolah Dasar
PERENCANAAN
Pendahuluan
Proses
belajar dan mengajar merupakan hal yang tidak asing lagi untuk di dengar.
Berbicara tentang belajar dan mengajar juga berbicara tentang sesuatu yang tak
pernah barakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi sampai akhir
hayat nanti. Oleh karena itu, sekolah merupakan sistem yang hidup dan bertugas
untuk memenuhi fungsi dasar pembelajaran bagi penerima utama (murid) dan juga
bagi orang lain yang mendukung proses pembelajaran (yang mencakup guru,
pegawai, orang tua, dan anggota komunitas lainnya).
Terlepas
akan hal tersebut, sistem pembelajaran di masa ini menganjurkan agar siswa
berperan lebih aktif dari pada guru dimana guru hanya berperan sebagai pemeberi
motivasi, atau yang kita kenal dengan learner-centered.
Prinsip learner-centered ini mendorong guru untuk membantu murid secara
aktif mengkonstruksi pemahaman murid, menentukan tujuan dan rencana, berpikir
mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran murid, memecahkan pro-positif dan
mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level
perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang
yang bebeda latar belakang), mengevaluasi preferensi murid dan memenuhi
standar. Selain program Learner-Centered perlu adanya Motivasi yang menjadi
proses pemberi semnagat, arah, dan kegigihan perilaku si muird. Dan motivasi
ini merupakan komponen utama dari prinsip Learner-centered., sehingga topik
yang kami ambil dalam observasi yang kami lakukan di Sekolah Dasar (SD) Yayasan
Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah ini adalah tentang “Metode pembelajaran
Learner-centered dan Perspektif dari Motivasi.”
Dengan
adanya kedua hal tersebut di dalam sistem pembelajaran di sekolah, akan sangat
membantu tumbuh kembangnya kreativitas si anak dan sangat berguna untuk proses
pembelajaran selanjutnya. Karena pada zaman yang modern ini, para anak di usia
sekolah sangat di tuntut untuk melakukan segalanya dengan lebih baik untuk
dapat bersaing dengan orang-orang di luar negaranya sendiri.
Objek
yang digunakan di dalam penelitian ini adalah murid kelas dua (2), tiga (3),
dan lima (5) SD Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah. Pada 3 kelas ini,
kami melakukan penelitian untuk mengetahui bagaiamana metode pembelajaran
dengan Learner-Centered di dalam ketiga kelas tersebut, dan sejauh mana
motivasi-motivasi yang dimiliki oleh setiap peserta didik di dalam ketiga kelas
tersebut.
LANDASAN TEORI
Pendidikan merupakan
komponen penting dan juga merupakan investasi jangka panjang bagi kehidupan
seseorang. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan individu yang baik dan
berguna bagi masyarakat, sehingga pendidikan merupakan wadah yang baik untuk
mencetak individu-individu yang dapat diterima masyarakat.
Oleh karena itu, motivasi
belajar sangat dibutuhkan untuk membantu keberhasilan pendidikan bagi anak
murid. Upaya guru dibutuhkan untuk dapat meningkatkan minat siswa dalam hal
belajar. Menurut buku Santrock, Motivasi
merupakan proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya,
perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan
bertahan lama. Terdapat beberapa perspektif tentang motivasi :
1. Perspektif
Behavioral
Perspektif behavioral
menekankan pada imbalan dan hukuman ekstrenal yang dinilai merupakan kunci
dalam mengarahkan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli
positif maupun negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Bentuk insentif
yang dapat dipakai oleh guru didalam kelas adalah nilai yang baik, tanda
bintang, ataupun pujian. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau
pengakuan pada murid.
2. Perspektif
Humanistis
Perspektif Humanistis
menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan
untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham
Maslow yaitu hierarki kebutuhan. Teori Maslow ini menimbulkan diskusi tentang
urutan motivasi dalam kehidupan murid dan guru. Namun, tidak semua orang setuju
dengan pandangan ini. Misalnya, bagi beberapa murid kebutuhan kognitif mungkin
lebih fundamental ketimbang kebutuhan harga diri. Murid lain mungkin memenuhi
kebutuhan kognitif mereka walaupun mereka belum merasaan cinta dan rasa
memiliki.
3. Persepektif
Kognitif
Menurut perspektif kognitif,
pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Minat ini berfokus kepada ide-ide
seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, persepsi tentang
sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat
memgontrol lingkungan mereka secara efektif.
4. Perspektif
Sosial
Kebutuhan afiliasi atau
keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini
membutuhkan pembetukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang
sangat hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi
mereka untuk menghabiskan waktu dengan teman, kawan dekat, ketertarikan mereka
dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Terdapat beberapa strategi
menurut perspektif kognitif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih
sesuatu atau berprestasi. Ada dua cara, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik
a.
Motivasi
Intrinstik merupakan motivasi internal dari dalam diri kita untuk melakukan sesuatu
demi tujuan sendiri
b.
Motivasi
Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.
Motivasi ekstrinsik ini sering dipengaruhi oleh insentif ataupun hukuman.
Perencanaan dan Instruksi
yang digunakan guru dalam metode pembelajaran yang akan digunakannya didalam
kelas juga merupakan aspek yang penting dalam memberikan pembelajaran bagi
siswa. Instruksi dan perencanaan learned-center adalah pada siswa, bukan pada
guru. Pendekatan ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif.
Prinsip ini dinilai paling baik bagi beberapa ahli karena dapat memicu murid
untuk lebih aktif dan juga reflektif. Prinsip Learner center dikembangkan oleh
American Psychological Association dan dikembangkan dengan mengklasifikasikan
beberapa faktor, yaitu : kognitif dan metakognitif, motivasi dan emosional, sosial dan
developmental, dan faktor perbedaan individu.
Berdasarkan teori-teori
diatas, kelompok kami ingin mengatahui motivasi apa sajakah dan apakah prinsip
learner-centered itu diterapkan di SD Shafiyyatul Amaliyyah.
Alat atau Bahan
·
Camera Handphone
·
Buku
·
Pulpen
Objek atau Subjek
Sampel
Penelitian: Siswa dan Guru
Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah , dengan subjek penelitian adalah anak
SD yaitu kelas reguler 2 , 3 dan 5 ,
jumlah total yang di observasi 70 siswa dan 3 guru .
Jadwal
Pelaksanaan Penelitian:
|
Uraian
|
Maret
|
April
|
|
||||||||||||||
|
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
31
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Diskusi Pemilihan Topik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Diskusi Pemilihan Judul dan Teori
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menanyakan
kesediaan sekolah untuk diteliti
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Observasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengolahan Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Diskusi dengan Dosen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Diskusi Kelompok
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Posting Blog
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tanggal 28 Maret : mendiskusikan pemilihan topik yang
akan diambil dalam observasi
Tanggal 24 Maret
: memilih judul untuk Penelitian
Tanggal 24 dan
25 Maret : menanyakan kesediaan sekolah untuk melakukan penelitian
Tanggal 05 April
: observasi mulai dilakukan
Tanggal 6-8
April : melakukan pengolahan data
data yang telah dikumpulkan untuk ditinjau dan di susun lebih lanjut
Tanggal 24 Maret : diskusi dengan dosen
Tanggal 24, 28
Maret
dan tanggal 1-5
April :
adalah diskusi kelompok mengenai waktu dan penyusunan observasi
tanggal 09 April
: memposting hasil observasi ke blog
PELAKSANAAN
Observasi
dilakukan pada tanggal 05 April 2017 pada hari Rabu, kelompok berangkat dari
rumah masing masing sekitar pukul tujuh dan berada di kampus jam 07.15 sampai
07.30 sebelum berangkat menuju tempat observasi kami sudah lebih dahulu
menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam observas.Kelompok tiba di sekolah
pada pukul 08.00 wib. karena kami sudah mengirimkan surat izin sebelumnya maka
kami tidak perlu menunggu waktu yang lama namun kami tetap harus meminta izin
untuk masuk kelas dan kami diberikan bet yang menyatakan bahwa kami adalah
tamu. kelompok kami beranggotakan tujuh orang yang kemudian dibagi lagi
sebanyak 3 kelompok untuk mengamati sampel sebanyak tiga kelas, dalam kelas 2
sebanyak dua orang, kelas 3 sebanyak tiga orang dan kelas 5 sebanyak dua orang.
Saat
sampai dikelas, kami diberikan izin untuk menjelaskan sedikit tujuan kedatangan
kami dan untuk menyapa para siswa setelah diizinkan kami pun mengamati keadaan
kelas, bagaimana proses belajar mengajar, perilaku murid dan interaksi timbal
balik antara murid dan guru. Kelompok yang mengobservasi kelas 2 dan 3 hanya
mengamati murid selama satu mata pelajaran saja, kurang
-2 orang ( Nada dan Sri Ulfa) mengobservasi
peserta didik kelas 2
-3
orang ( Shyntia, Angel, dan Resya) mengobservasi peserta didik kelas 3
-2
orang (Muftyanti Arishwandini dan Risti) mengobservasi peserta didik kelsa 5
Pada kelas 5
saat itu mata pelajaran yang diuji adalah IPS sedangkan kelas 3 adalah seni
musik , setelah mengobservasi selama satu setengah jam (sampai bel istirahat)
kelompok pun pamit untuk menyudahi
kegiatan observasi di kelas itu dan mengucapkan terimakasi atas
ketersediaannya peserta didik dan pengajar , dan diakhiri dengan sesi foto
bersama sebagai dokumentasi penelitian.
PELAPORAN dan EVALUASI
Laporan
1.Jadwal
Kegiatan (Rabu, 05 April 2017)
07.15 - 07.30 : Bel pertama berbunyi , berbaris di depan ,
mengucapkan ikrar santri , membaca surah surah pendek
07.30 – 09.15 : sesi kelas pertama
09.15 - 09.45 : Sholat Dhuha dan istirahat
09.45- : sesi pelajaran kedua
2.
Sistematika Observasi
Kelompok
tiba di Yayasan Syafiatul Amaliah pada pukul 07.15 . dan kami membagi kelompok
untuk masuk ke 3 kelas , anak anak sudah
berada di ruang kelas dan membaca surah surah pendek . Kelas berkapasitas 23
orang namun yang hadir hanya 20 orang pada hari Rabu 05 April 2017 , masing
masing kelas dipimpin oleh seorang guru.
1. Untuk
kelas 5 metode pengajaran yang dilakukan sang
pengajar adalah metode ceramah dan juga sesekali menggunakan tampilan video
untuk lebih memudahkan murid dalam memahami materi. Sesi ceramah ini
berlangsung sekitar setengah jam , kemudian di akhir pelajaran guru memberikan
kuis sebanyak 10 soal pada murid tentang materi yang dibahas tadi , selanjutnya
pengajar memberikan kuis tanya jawab sebagai tambahan nilai bagi murid yang mampu
mejawabnya.
Dalam
hal motivasi pada murid ada beberapa tindakan yang membuat murid ter motivasi
selama pelajaran berlangsung
·
Perspektif
Behavioral
Dalam
suasana kelas tersebut pengajar melakukan metode kuis dengan imbalan nilai
setelah menyelesaikan materi tersebut , dan juga melakukan sesi kuis tanya
jawab dengan reward tambahan niali bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan
yang diajukan.
·
Dalam
perspektif Humanistik
Dalam
pengamatan tersebut sang pengajar mampu mendorong murid untuk berusaha menjawab
pertanyaan yang diajukan dan memberi kesempatan dan bantuan bagi murid yang
agak lama dalam memahami pelajaran untuk ikut menjawab pertanyaan sehingga
mereka akan berlomba lomba untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
2. Pada
kelas 3 metode pengajaran yang digunakan memakai prinsipe learner center :
·
faktor
kognitif dan Metakognitif
a. Sifat proses
pembelajaran: pelajar yang sukses adalah pelajar
yang aktif, punya tujuan, dan mampu mengatur diri sendiri dan juga mau
bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
Contoh:
Murid yang bernama Santika kelas 3 di YPSA ini adalah seorang murid yang sangat
aktif, dia dapat memainkan musik sendiri ketika disuruh dan belajar sendiri
untuk memainkan alat musik tersebut sampai bisa.
b. Tujuan proses
pembelajaran: Miss
Wiwik selalu mengulang apa yang diajarkannya kepada murid yang berkapasitas 21
orang tersebut, agar mereka semua bisa.
c. Konstruksi
pengetahuan: Pelajar yang sukses bisa menghubungkan informasi baru
dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang megandung makna
tertentu.
Contoh:
Sebelumnya Miss Wiwik sudah mengajarkan penggunaan not kepada murid di kelas 3
A, sehingga rata-rata mereka dapat belajar not dengan memainkan alat musik
pianika.
Dan ditemukan
pula bentuk bentuk motivasi yang terjadi selama pembelajaran pada murid murid,
yaitu :
a. Pengaruh motivasi
dan emosi terhadap pembelajaran
Contoh:
Setelah Miss Wiwik selalu menegur salah seorang murid secara terus-menerus,
sebut aja si B. Si B ini menjadi emosi , tampak dari sikap nya yang menekan
pianika tersebut dengan asal-asalan. Sehingga emosi si B yang digambarkan
dengan kemarahannya ini melemahkan proses pembelajarannya.
b. Motivasi
instrinsik untuk belajar.
Seperti yang
sudah diutarakan pada contoh sebelumnya, Santika adalah seorang murid yang
aktif, dan dia sangat berusaha keras untuk dapat mengetahui pembelajaran pada
hari itu. Tampak bahwasanya itu merupakan motivasi intrinsik dari dirinya,
karena dari hasil pengamatan dia sangat bersemangat pada mata pelajaran seni
tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik dari murid
tersebut.
c. Efek motivasi
terhadap usaha.:
Miss Wiwik selalu memberikan semangat berupa
kata-kata “bagus” kepada setiap murid yang bisa memainkan alat musik pianika
dengan sendiri. Dalam hal ini, setiap usaha si anak diberikan reward
(penghargaan)
3. Untuk kelas 2 , metode peajaran yang
digunakan adalah metode ceramah , guru menerangkan secara lisan kepada siswa
tentang apa yang akan dipelajari untuk mencapai tujuan agar siswa cepat
mengerti. Dengan ceramah guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi siswa
nya.
Dalam segi
perspektif motivasi sebagai berikut :
·
Perspektif
Behavioral
Di dalam kelas pengajar memberikan
latihan soal berbentuk kuis pada siswa dengan imbalan jika dapat menjawab
dengan benar makan akan diberi reward berbentuk bintang dibukunya.
·
Dalam
perspektif Kognitif
Dapat kita amati di sini pengajar
memberikan latihan soal dengan siswa dan mereka sangat antusias mendengarkan
arahan dari guru. Bagi siswa yang dapat menjawab nya dengan tepat diberikan
reward, ini akan membuat efek postif bagi siswa lainnya dan akan menumbuhkan motivasi
untuk mencoba menjawab nya juga.
·
Perspektif
Sosial
Di sini mereka dapat lebih dekat dengan pengajar
karena sering adanya komunikasi dan hubungan yang baik antara pengajar dan
siswa. Karena bagi siswa guru itu adalah orangtua kedua setelah ibu dan ayah
mereka di rumah.
Evaluasi
Tugas
ini seharusnya sudah di mulai pada bulan maret, tetapi karena adanya beberapa
halangan seperti begitu banyaknya tugas kuliah, dan beberapa kegiatan lainnya,
hingga kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan kelompok, maka tugas ini pun
sempat tertunda. Akhirnya sebelum UTS pada tgl 8 April kelompok baru memiliki
waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
Perencanaan
awal yang sudah dilakukan cukup sempurna
dan terstruktur, tetapi dalam pelaksanaannya terjadi beberapa kendala. Misalnya
observasi diharapkan dapat di mulai pada bulan maret, tetapi pemimpin Yayasan
pendidikan Shofiyatul Amaliyah baru memberikan izin pada tgl 4 April. Pada
hari-H nya pihak sekolah memberikan waktu kepada kami untuk memasuki kelas
dengan waktu 15-30 menit, walaupun kami berhasil memaksimalkan waktu menjadi
sekitar satu jam . Secara keseluruhan, tugas observasi ini telah berjalan
dengan lancar meskipun terdapat beberapa kendala dan hambatan dalam
pelaksanaannya.
POSTER
TESTIMONI
Shyntia
(16-073) : Tugas observasi tentang leraner-centered dan motivasi untuk anak SD
ini merupakan suatu pengalaman baru bagi saya. Dan saya sangat senang melakukan
observasi ini ,karena dapat melihat bagaimana proses belajar dan mengajar pada
anak-anak di pendidikan sekolah dasar dimana murid-murid yang di observasi
masih sangat lucu dan imut. yah, meski ujung-ujungnya akan mengerjakan laporan
observasi sih. heheh. Tapi tidak mengapa, karena hal ini akan menambah wawasan bagi saya sendiri
tentang bagaimana cara menyusun laporan hasil observasi.
Angel Muliana Tumanggor (161301074)
Sebenarnya
saya sudah sering melihat bagaimana keadaan siswa-siswi sekolah dasar tetapi
pada observasi kali inilah saya baru mengerti bagaimana interaksi tersebut
terjadi, motivasi apa yang ada dalam siswa-siswi dan bagaimana proses belajar
mengajar siswa-siswi Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Syafiyyatul Amaliyyah.
Cukup banyak kendala yang kelompok kami alami namun akhirnya kami dapat
melaksanakan observasi ini dengan baik dan lancar. Menurut saya melalui mata
kuliah psikoloogi pendidikan ini banyak ilmu yang bisa didapat, pengetahuan
yang bertambah membuat saya jadi memahami banyak hal tentang perilaku seorang
siswa dan tentu saja menambah pengalaman saya J
Rhesya N. (16-029):
Menurut saya, tugas observasi ini memberikan saya lebih banyak ilmu dan
memudahkan saya untuk lebih memahami pengaplikasian teori-teori psikologi
pendidikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam hal pengajaran dan
pembelajaran.
Risti Devi Mawarny (16-044) : dalam hal ini
melakukan sebuah observasi adalah hal yang baru bagi saya , awalnya sedikit
cemas apakah kami bisa melakukan observasi ini dengan baik mengingat ada
masalah pada surat izin yang memakan waktu sedikit lama juga dari pihak sekolah
yang memberikan kepastian yang cukup lama, dimana kelompk lain sudah mulai
observasi dan kami belum , namun begitu di hari H saya semakin bersemangat
untuk mencoba hal baru ini , dan ini sungguh menyenangkan walaupun sedikit
ribet diawal dan akhir , namun ini menambah ilmu bagi saya.
Sri Ulfa
(16-040)
Menurut
saya tugas observasi ini sangat berguna bagi saya karena dapat menambah wawasan saya dan juga pengalaman
saya. Pengalaman bisa bercengkrama dan berinteraksi langsung dengan anak-anak
SD di YPSA, dan juga bisa bermain bersama mereka. Dan dapat mempermudah saya
untuk lebih mengetahui pengaplikasian teori psikologi pendidikan di dunia
pendidikan.
Muftyanti Arishwandini
(16-065)
Menurut saya tugas observasi
ini merupakn tugas yangg seru dan menarik. Dimana dalam pelaksanaan tugas ini
kami mendapat tantangan yang cukup berat, mulai dari survey ke sekolah untuk menyakan
ketersediaan sekolah, mengurus surat izin sampai dengan melakukan observasi.
Ketika surat izin telah diterima, kami juga mengalami sediikt cekcok dalam menentukan
judul observasi dan landasan teori observasi. Namun semua peristwa tersebut mengajarkan
kami untuk tetap bekerjasama, mengendalikan ego satu sma lain dan menjalin kerjasama
lebih baik lagi. Tugas ini merupakan tugas pertama bagi kami yang berhubungan dengan
lingkungan luar. Dalam tugas ini kami mendapatkan banyak pelajaran, seperti menjalin
hubungan dengan kepala sekolajh dan staff pengajar dan juga menjalin kerjasama
dengan objek penelitian. Pengalaman ini merupakan pengalaman menarik yang membuat
kami mampu mengaplikasikan secara langusng materi psikologi pendidikan yang sudah
kami pelajari.
Nada Salsabila (16-043)
Akhirnya saya bisa mengaplikasikan
ilmu yang saya dapat didalam ruangan! Bukan sekedar mendapatkan wawasan atau
pengalaman tapi inilah maksud dan tujuan saya ketika ingin memasuki dunia
perkuliahan. Di mana saya bisa terjun langsung ke dunia nyata untuk membagi apa
yang saya dapat dan menggunakannya dengan sebaik mungkin. Sangat menarik!
Testimoni pembelajaran psikologi pendidikan
Hai bu.. nama saya sri ulfa nim 161301040, saya senang banget sama pelajaran psikologi pendidikan apalagi kalau ibu yang ngajar hehe, karena saya dapat menambah pengetahuan saya tentang bagaimana saja cara penerapan teori dari tokoh-tokoh psikologi pendidikan di kehidupan nyata. Banyak banget manfaat dari belajar psikologi pendidikan. Alhamdulillah saya bisa jadi bagian dari mahasiswa psikologi usu.
Psikologi pendidikan: Apa itu pembelajaran?
Nama: Sri ulfa
Nim: 161301040
APA ITU PEMBELAJARAN?
Proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika orang ditanya apa fungsi sekolah itu, mereka biasanya akan menjawab, “membantu murid untuk belajar”. Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu sejak lahir, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak harus diajari untuk menelan makanan, berteriak, atau berkedip saat silau. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja. saat anak menggunakan komputer dengan cara baru, bekerja lebih keras dalam memecahkan masalah, mengajukan pertanyaan secara lebih baik, menjelaskan jawaban dengan cara yang lebih logis, atau mendengar dengan lebih perhatian, maka berarti dia sedang menjalani proses belajar.
Pendekatan dalam pembelajaran:
Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).
Teori Behaviorisme:
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu
menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung: anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid menganggu murid lain, dan sebagainya. Proses mental didefinikasikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
pengondisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral. Kedua pandangan ini menekan pembelajaran asosiatif (associative learning), yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (associated). Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan pembelajaran sesuatu di sekolah, seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus.
Aplikasi Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasari yaitu:
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan bagia-bagian
Mementingkan peranan reaksi
Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Teori kognitif
Teori kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga yang diungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.ada empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran:pendekatan pertama kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran. Pendekatan kedua, pemprosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Pendekatan keempat, konstruktivis sosial, fokus kepada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.
Nim: 161301040
APA ITU PEMBELAJARAN?
Proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika orang ditanya apa fungsi sekolah itu, mereka biasanya akan menjawab, “membantu murid untuk belajar”. Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu sejak lahir, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak harus diajari untuk menelan makanan, berteriak, atau berkedip saat silau. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja. saat anak menggunakan komputer dengan cara baru, bekerja lebih keras dalam memecahkan masalah, mengajukan pertanyaan secara lebih baik, menjelaskan jawaban dengan cara yang lebih logis, atau mendengar dengan lebih perhatian, maka berarti dia sedang menjalani proses belajar.
Pendekatan dalam pembelajaran:
Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).
Teori Behaviorisme:
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu
menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung: anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid menganggu murid lain, dan sebagainya. Proses mental didefinikasikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
pengondisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral. Kedua pandangan ini menekan pembelajaran asosiatif (associative learning), yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (associated). Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan pembelajaran sesuatu di sekolah, seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus.
Aplikasi Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasari yaitu:
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan bagia-bagian
Mementingkan peranan reaksi
Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Teori kognitif
Teori kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga yang diungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.ada empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran:pendekatan pertama kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran. Pendekatan kedua, pemprosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Pendekatan keempat, konstruktivis sosial, fokus kepada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.
Psikologi pendidikan: Apa itu motivasi?
Nama: Sri ulfa
Nim:161301040
Tugas Resume Psikologi Pendidikan tentang Apa itu Motivasi.
Apa Motivasi Itu?
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan tahan lama.
Perbandingan motivasi menurut perspektif behavioral, humanistis,kognitif, dan sosial.
Perspektif behavioral tentang motivasi yang menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor utama yang menentukan motivasi murid. Insentif adalah stimuli atau kejadian positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Perspektif humanistis menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita atau diri kita sendiri, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif dari diri kita. Menurut perspektif humanistis Maslo, ada hierarki motif, dan kebutuhan murid harus dipuaskan dalam urutan tertentu. Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan tersulit dalam hierarki Maslow, melibatkan motivasi untuk mengembangkan potensi manusia secara penuh.
Perspektif kognitif tentang motivasi, pikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini memfokuskan diri pada motivasi internal untuk meraih sesuatu, atribusi, keyakinan murid bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan secara efektif, dan dapat menentukan tujuan, merencanakan, dan memonitor kemajuan mereka ke arah tujuan. Perspektif kognitif mirip dengan konsep motivasi kompetensi R. W. White.
Perspektif sosial menekankan perlunya afiliasi atau keterhubungan yaitu untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.
Proses yang sangat penting dalam motivasi untuk meraih sesuatu
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Secara keseluruhan, kebanyakan pakar merekomendasikan agar guru menciptakan atmosfer kelas di mana murid dapat termotivasi secara intrinsik untuk belajar. Salah satu pandangan dari motivasi intrinsik menekankan karekteristik determinasi diri. Memberi murid beberapa pilihan dan memberi banyak kesempatan untuk tanggung jawab personal akan meningkatkan motivasi intrinsik.
Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang optimal, yang melibatkan penguasaan dan konsentrasi kuat dalam aktivitas. Flow paling mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka mampu menghadapinya. Dalam beberapa situasi,hadiah dapat melemahkan kinerja. Ketika hadiah dipakai, hadiah itu harus mengandung informasi tentang menguasaan tugas, bukan sebagai kontrol eksternal. Para periset menemukan bahwa saat murid berpindah dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsik mereka terus menurun, terutama saat SMP. Konsep sesuaian lingkungan person menimbulkan perhatian pada kurangnya kesesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan kontrol sekolah yang makin ketat, yang menyebabkan evaluasi dan sikap negatif terhadap sekolah.
Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memahami perilaku. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi kausal: (1) lokus, (2) stabilitas, dan (3) daya kontrol. Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan penjelasan yang berbeda tentang kegagalan dan kesuksesan. Orientasi penguasaan (mastery) berfokus pada tugas bukan pada kemampuan, dan melibatkan sikap positif dan strategi berorientasi solusi. Orientasi helpless fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukan sikap negatif (seperti rasa bosan dan cemas). Orientasi kinerja lebih memperhatikan hasil daripada proses pencapaiannya.
Self-efficacy (kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Kecemasan yang tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang tak realistis. Kecemasan murid bertambah ketika mereka makin tua dan banyak menghadapi evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan (bagi beberapa murid).
Ekspektasi guru sangat mempengaruhi motivasi dan prestasi murid.
Nim:161301040
Tugas Resume Psikologi Pendidikan tentang Apa itu Motivasi.
Apa Motivasi Itu?
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan tahan lama.
Perbandingan motivasi menurut perspektif behavioral, humanistis,kognitif, dan sosial.
Perspektif behavioral tentang motivasi yang menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor utama yang menentukan motivasi murid. Insentif adalah stimuli atau kejadian positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Perspektif humanistis menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita atau diri kita sendiri, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif dari diri kita. Menurut perspektif humanistis Maslo, ada hierarki motif, dan kebutuhan murid harus dipuaskan dalam urutan tertentu. Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan tersulit dalam hierarki Maslow, melibatkan motivasi untuk mengembangkan potensi manusia secara penuh.
Perspektif kognitif tentang motivasi, pikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini memfokuskan diri pada motivasi internal untuk meraih sesuatu, atribusi, keyakinan murid bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan secara efektif, dan dapat menentukan tujuan, merencanakan, dan memonitor kemajuan mereka ke arah tujuan. Perspektif kognitif mirip dengan konsep motivasi kompetensi R. W. White.
Perspektif sosial menekankan perlunya afiliasi atau keterhubungan yaitu untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.
Proses yang sangat penting dalam motivasi untuk meraih sesuatu
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Secara keseluruhan, kebanyakan pakar merekomendasikan agar guru menciptakan atmosfer kelas di mana murid dapat termotivasi secara intrinsik untuk belajar. Salah satu pandangan dari motivasi intrinsik menekankan karekteristik determinasi diri. Memberi murid beberapa pilihan dan memberi banyak kesempatan untuk tanggung jawab personal akan meningkatkan motivasi intrinsik.
Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang optimal, yang melibatkan penguasaan dan konsentrasi kuat dalam aktivitas. Flow paling mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka mampu menghadapinya. Dalam beberapa situasi,hadiah dapat melemahkan kinerja. Ketika hadiah dipakai, hadiah itu harus mengandung informasi tentang menguasaan tugas, bukan sebagai kontrol eksternal. Para periset menemukan bahwa saat murid berpindah dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsik mereka terus menurun, terutama saat SMP. Konsep sesuaian lingkungan person menimbulkan perhatian pada kurangnya kesesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan kontrol sekolah yang makin ketat, yang menyebabkan evaluasi dan sikap negatif terhadap sekolah.
Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memahami perilaku. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi kausal: (1) lokus, (2) stabilitas, dan (3) daya kontrol. Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan penjelasan yang berbeda tentang kegagalan dan kesuksesan. Orientasi penguasaan (mastery) berfokus pada tugas bukan pada kemampuan, dan melibatkan sikap positif dan strategi berorientasi solusi. Orientasi helpless fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukan sikap negatif (seperti rasa bosan dan cemas). Orientasi kinerja lebih memperhatikan hasil daripada proses pencapaiannya.
Self-efficacy (kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Kecemasan yang tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang tak realistis. Kecemasan murid bertambah ketika mereka makin tua dan banyak menghadapi evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan (bagi beberapa murid).
Ekspektasi guru sangat mempengaruhi motivasi dan prestasi murid.
Selayang pandang psikologi pendidikan
Tugas Resume Psikologi Pendidikan
Nama: Sri Ulfa
Nim:161301040
Selayang pandang psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan adalah ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa tokoh bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga tokoh terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Yaitu:
William James. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan.
John Dewey. Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Pertama, pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner).Kedua,ia mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ketiga, dari Dewey kita mendapat gagasan bahwa anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
E. L. Thorndike. Dia yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah (penelitian dan riset).
Cara mengajar yang efektif:
Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel.
Pengetahuan dan keahlian Profesional:
Penguasaan Materi pelajaran: guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
Strategi pengajaran: guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional: guru yang efektif tidak sekedar mengajar di kelas, entah itu dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
Keahlian manajemen kelas: guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
Keahlian Motivasional: guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
Keahlian Komunikasi: guru sangat perlu mempunyai keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian kominikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua murid.
Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan: Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda.
Keahlian teknologi: Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer kedalam proses mengajar di kelas. Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi dengan baik dan benar.
Komitmen dan motivasi
Riset dalam psikologi pendidikan
Sains bukan didefinisikan oleh apa yang ditelitinya tetapi oleh bagaimana cara investigasi dilakukan. Riset ilmiah bersifat objektif, sistematis dan dapat diuji, mereduksi kemungkinan informasi akan didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan. Riset ilmiah didasarkan pada metode ilmiah, yang terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, dan merevisi kesimpulan dan teori. Sebuah teori adalah seperangkat ide yang dapat membantu menjelaskan dan membuat prediksi. Sebuah teori yang memuat hipotesis.
Metode pengumpulan data riset dapat diklasifikasikan sebagai metode deskriptif, korelasional, dan eksperimental. Metode deskriptif mencakup observasi, wawancara, kuesioner, tes standar, studi etnografik, dan studi kasus. Prinsip riset penting adalah korelasi tidak sama dengan sebab akibat. Riset eksperimental adalah satu-satunya jenis riset yang dapat mengungkapkan sebab-sebab perilaku.
Nama: Sri Ulfa
Nim:161301040
Selayang pandang psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan adalah ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa tokoh bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga tokoh terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Yaitu:
William James. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan.
John Dewey. Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Pertama, pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner).Kedua,ia mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ketiga, dari Dewey kita mendapat gagasan bahwa anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
E. L. Thorndike. Dia yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah (penelitian dan riset).
Cara mengajar yang efektif:
Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel.
Pengetahuan dan keahlian Profesional:
Penguasaan Materi pelajaran: guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
Strategi pengajaran: guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional: guru yang efektif tidak sekedar mengajar di kelas, entah itu dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
Keahlian manajemen kelas: guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
Keahlian Motivasional: guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
Keahlian Komunikasi: guru sangat perlu mempunyai keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian kominikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua murid.
Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan: Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda.
Keahlian teknologi: Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer kedalam proses mengajar di kelas. Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi dengan baik dan benar.
Komitmen dan motivasi
Riset dalam psikologi pendidikan
Sains bukan didefinisikan oleh apa yang ditelitinya tetapi oleh bagaimana cara investigasi dilakukan. Riset ilmiah bersifat objektif, sistematis dan dapat diuji, mereduksi kemungkinan informasi akan didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan. Riset ilmiah didasarkan pada metode ilmiah, yang terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, dan merevisi kesimpulan dan teori. Sebuah teori adalah seperangkat ide yang dapat membantu menjelaskan dan membuat prediksi. Sebuah teori yang memuat hipotesis.
Metode pengumpulan data riset dapat diklasifikasikan sebagai metode deskriptif, korelasional, dan eksperimental. Metode deskriptif mencakup observasi, wawancara, kuesioner, tes standar, studi etnografik, dan studi kasus. Prinsip riset penting adalah korelasi tidak sama dengan sebab akibat. Riset eksperimental adalah satu-satunya jenis riset yang dapat mengungkapkan sebab-sebab perilaku.

