Observasi : Peran Metode Learner Center






Tugas mini proyek Kelompok 4
Rhesya Nurvianty                   16-029
Sri Ulfa                                   16-040
Nada Salsabila                        16-043
Risti Devi Mawarny                16-044
Muftyanti Arishwandini         16-065
Shyntia E. Putri Pasaribu        16-073
Angel Muliana Tumanggor     16-074
                                                     
Topik :  Peran Motivasi dalam proses belajar pada siswa SD dan pengaplikasian Learner Center pada siswa
Judul : Peran metode Learner Center dan Motivasi pada Anak Usia Sekolah Dasar

PERENCANAAN
Pendahuluan
Proses belajar dan mengajar merupakan hal yang tidak asing lagi untuk di dengar. Berbicara tentang belajar dan mengajar juga berbicara tentang sesuatu yang tak pernah barakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi sampai akhir hayat nanti. Oleh karena itu, sekolah merupakan sistem yang hidup dan bertugas untuk memenuhi fungsi dasar pembelajaran bagi penerima utama (murid) dan juga bagi orang lain yang mendukung proses pembelajaran (yang mencakup guru, pegawai, orang tua, dan anggota komunitas lainnya).
Terlepas akan hal tersebut, sistem pembelajaran di masa ini menganjurkan agar siswa berperan lebih aktif dari pada guru dimana guru hanya berperan sebagai pemeberi motivasi, atau yang kita kenal dengan learner-centered. Prinsip learner-centered ini mendorong guru untuk membantu murid secara aktif mengkonstruksi pemahaman murid, menentukan tujuan dan rencana, berpikir mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran murid, memecahkan pro-positif dan mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang bebeda latar belakang), mengevaluasi preferensi murid dan memenuhi standar. Selain program Learner-Centered perlu adanya Motivasi yang menjadi proses pemberi semnagat, arah, dan kegigihan perilaku si muird. Dan motivasi ini merupakan komponen utama dari prinsip Learner-centered., sehingga topik yang kami ambil dalam observasi yang kami lakukan di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah ini adalah tentang “Metode pembelajaran Learner-centered dan Perspektif dari Motivasi.”
Dengan adanya kedua hal tersebut di dalam sistem pembelajaran di sekolah, akan sangat membantu tumbuh kembangnya kreativitas si anak dan sangat berguna untuk proses pembelajaran selanjutnya. Karena pada zaman yang modern ini, para anak di usia sekolah sangat di tuntut untuk melakukan segalanya dengan lebih baik untuk dapat bersaing dengan orang-orang di luar negaranya sendiri.
Objek yang digunakan di dalam penelitian ini adalah murid kelas dua (2), tiga (3), dan lima (5) SD Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah. Pada 3 kelas ini, kami melakukan penelitian untuk mengetahui bagaiamana metode pembelajaran dengan Learner-Centered di dalam ketiga kelas tersebut, dan sejauh mana motivasi-motivasi yang dimiliki oleh setiap peserta didik di dalam ketiga kelas tersebut.
LANDASAN TEORI
Pendidikan merupakan komponen penting dan juga merupakan investasi jangka panjang bagi kehidupan seseorang. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan individu yang baik dan berguna bagi masyarakat, sehingga pendidikan merupakan wadah yang baik untuk mencetak individu-individu yang dapat diterima masyarakat.
Oleh karena itu, motivasi belajar sangat dibutuhkan untuk membantu keberhasilan pendidikan bagi anak murid. Upaya guru dibutuhkan untuk dapat meningkatkan minat siswa dalam hal belajar. Menurut buku Santrock, Motivasi merupakan proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Terdapat beberapa perspektif tentang motivasi :
1.      Perspektif Behavioral
Perspektif behavioral menekankan pada imbalan dan hukuman ekstrenal yang dinilai merupakan kunci dalam mengarahkan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif maupun negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Bentuk insentif yang dapat dipakai oleh guru didalam kelas adalah nilai yang baik, tanda bintang, ataupun pujian. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid.
2.      Perspektif Humanistis
Perspektif Humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow yaitu hierarki kebutuhan. Teori Maslow ini menimbulkan diskusi tentang urutan motivasi dalam kehidupan murid dan guru. Namun, tidak semua orang setuju dengan pandangan ini. Misalnya, bagi beberapa murid kebutuhan kognitif mungkin lebih fundamental ketimbang kebutuhan harga diri. Murid lain mungkin memenuhi kebutuhan kognitif mereka walaupun mereka belum merasaan cinta dan rasa memiliki.
3.      Persepektif Kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Minat ini berfokus kepada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat memgontrol lingkungan mereka secara efektif.

4.      Perspektif Sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembetukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang sangat hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu dengan teman, kawan dekat, ketertarikan mereka dengan orangtua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Terdapat beberapa strategi menurut perspektif kognitif untuk meningkatkan motivasi murid untuk meraih sesuatu atau berprestasi. Ada dua cara, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
a.       Motivasi Intrinstik merupakan motivasi internal dari dalam diri kita untuk melakukan sesuatu demi tujuan sendiri
b.      Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Motivasi ekstrinsik ini sering dipengaruhi oleh insentif ataupun hukuman.
Perencanaan dan Instruksi yang digunakan guru dalam metode pembelajaran yang akan digunakannya didalam kelas juga merupakan aspek yang penting dalam memberikan pembelajaran bagi siswa. Instruksi dan perencanaan learned-center adalah pada siswa, bukan pada guru. Pendekatan ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Prinsip ini dinilai paling baik bagi beberapa ahli karena dapat memicu murid untuk lebih aktif dan juga reflektif. Prinsip Learner center dikembangkan oleh American Psychological Association dan dikembangkan dengan mengklasifikasikan beberapa faktor, yaitu : kognitif dan metakognitif,  motivasi dan emosional, sosial dan developmental, dan faktor perbedaan individu.
Berdasarkan teori-teori diatas, kelompok kami ingin mengatahui motivasi apa sajakah dan apakah prinsip learner-centered itu diterapkan di SD Shafiyyatul Amaliyyah.
Alat atau Bahan
·         Camera Handphone
·         Buku
·         Pulpen
Objek atau Subjek
Sampel Penelitian: Siswa dan Guru Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah , dengan subjek penelitian adalah anak SD yaitu kelas reguler  2 , 3 dan 5 , jumlah total yang di observasi 70 siswa dan 3 guru .


Jadwal Pelaksanaan Penelitian:

Uraian
Maret
April


24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Diskusi Pemilihan Topik

















Diskusi Pemilihan Judul dan Teori

















Menanyakan kesediaan sekolah untuk diteliti

















Observasi

















Pengolahan Data

















Diskusi dengan Dosen

















Diskusi Kelompok

















Posting Blog


















Tanggal 28 Maret        : mendiskusikan pemilihan topik yang akan diambil dalam observasi
Tanggal 24 Maret        : memilih judul untuk Penelitian
Tanggal 24 dan 25 Maret : menanyakan kesediaan sekolah untuk melakukan penelitian
Tanggal 05 April         : observasi mulai dilakukan
Tanggal 6-8 April        : melakukan pengolahan data data yang telah dikumpulkan untuk ditinjau dan di susun lebih lanjut
Tanggal 24 Maret        : diskusi dengan dosen
Tanggal 24, 28 Maret
dan tanggal 1-5 April  :  adalah diskusi kelompok mengenai waktu dan penyusunan observasi
tanggal 09 April : memposting hasil observasi ke blog






PELAKSANAAN
Observasi dilakukan pada tanggal 05 April 2017 pada hari Rabu, kelompok berangkat dari rumah masing masing sekitar pukul tujuh dan berada di kampus jam 07.15 sampai 07.30 sebelum berangkat menuju tempat observasi kami sudah lebih dahulu menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam observas.Kelompok tiba di sekolah pada pukul 08.00 wib. karena kami sudah mengirimkan surat izin sebelumnya maka kami tidak perlu menunggu waktu yang lama namun kami tetap harus meminta izin untuk masuk kelas dan kami diberikan bet yang menyatakan bahwa kami adalah tamu. kelompok kami beranggotakan tujuh orang yang kemudian dibagi lagi sebanyak 3 kelompok untuk mengamati sampel sebanyak tiga kelas, dalam kelas 2 sebanyak dua orang, kelas 3 sebanyak tiga orang dan kelas 5 sebanyak dua orang.
Saat sampai dikelas, kami diberikan izin untuk menjelaskan sedikit tujuan kedatangan kami dan untuk menyapa para siswa setelah diizinkan kami pun mengamati keadaan kelas, bagaimana proses belajar mengajar, perilaku murid dan interaksi timbal balik antara murid dan guru. Kelompok yang mengobservasi kelas 2 dan 3 hanya mengamati murid selama satu mata pelajaran saja, kurang
 -2 orang ( Nada dan Sri Ulfa) mengobservasi peserta didik kelas 2
-3 orang ( Shyntia, Angel, dan Resya) mengobservasi peserta didik kelas 3
-2 orang (Muftyanti Arishwandini dan Risti) mengobservasi peserta didik kelsa 5
Pada kelas 5 saat itu mata pelajaran yang diuji adalah IPS sedangkan kelas 3 adalah seni musik , setelah mengobservasi selama satu setengah jam (sampai bel istirahat) kelompok pun pamit untuk menyudahi  kegiatan observasi di kelas itu dan mengucapkan terimakasi atas ketersediaannya peserta didik dan pengajar , dan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi penelitian.
PELAPORAN dan EVALUASI
Laporan
1.Jadwal Kegiatan (Rabu, 05 April 2017)
07.15 - 07.30  : Bel pertama berbunyi , berbaris di depan , mengucapkan ikrar santri , membaca surah surah pendek
07.30 – 09.15 : sesi kelas pertama
09.15 - 09.45  : Sholat Dhuha dan istirahat
09.45-            : sesi pelajaran kedua
                                                                                



2. Sistematika Observasi
Kelompok tiba di Yayasan Syafiatul Amaliah pada pukul 07.15 . dan kami membagi kelompok untuk masuk ke 3 kelas ,  anak anak sudah berada di ruang kelas dan membaca surah surah pendek . Kelas berkapasitas 23 orang namun yang hadir hanya 20 orang pada hari Rabu 05 April 2017 , masing masing kelas dipimpin oleh seorang guru.

1.      Untuk kelas 5  metode pengajaran yang dilakukan sang pengajar adalah metode ceramah dan juga sesekali menggunakan tampilan video untuk lebih memudahkan murid dalam memahami materi. Sesi ceramah ini berlangsung sekitar setengah jam , kemudian di akhir pelajaran guru memberikan kuis sebanyak 10 soal pada murid tentang materi yang dibahas tadi , selanjutnya pengajar memberikan kuis tanya jawab sebagai tambahan nilai bagi murid yang mampu mejawabnya.
Dalam hal motivasi pada murid ada beberapa tindakan yang membuat murid ter motivasi selama pelajaran berlangsung
·         Perspektif Behavioral
Dalam suasana kelas tersebut pengajar melakukan metode kuis dengan imbalan nilai setelah menyelesaikan materi tersebut , dan juga melakukan sesi kuis tanya jawab dengan reward tambahan niali bagi siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan.

·         Dalam perspektif Humanistik
Dalam pengamatan tersebut sang pengajar mampu mendorong murid untuk berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan dan memberi kesempatan dan bantuan bagi murid yang agak lama dalam memahami pelajaran untuk ikut menjawab pertanyaan sehingga mereka akan berlomba lomba untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

2.      Pada kelas 3 metode pengajaran yang digunakan memakai prinsipe learner center :
·         faktor kognitif dan Metakognitif
a. Sifat proses pembelajaran: pelajar yang sukses adalah pelajar yang aktif, punya tujuan, dan mampu mengatur diri sendiri dan juga mau bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
Contoh: Murid yang bernama Santika kelas 3 di YPSA ini adalah seorang murid yang sangat aktif, dia dapat memainkan musik sendiri ketika disuruh dan belajar sendiri untuk memainkan alat musik tersebut sampai bisa.
b. Tujuan proses pembelajaran:  Miss Wiwik selalu mengulang apa yang diajarkannya kepada murid yang berkapasitas 21 orang tersebut, agar mereka semua bisa.
c. Konstruksi pengetahuan: Pelajar yang  sukses bisa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang megandung makna tertentu.
Contoh: Sebelumnya Miss Wiwik sudah mengajarkan penggunaan not kepada murid di kelas 3 A, sehingga rata-rata mereka dapat belajar not dengan memainkan alat musik pianika.
Dan ditemukan pula bentuk bentuk motivasi yang terjadi selama pembelajaran pada murid murid, yaitu :
a. Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran
Contoh: Setelah Miss Wiwik selalu menegur salah seorang murid secara terus-menerus, sebut aja si B. Si B ini menjadi emosi , tampak dari sikap nya yang menekan pianika tersebut dengan asal-asalan. Sehingga emosi si B yang digambarkan dengan kemarahannya ini melemahkan proses pembelajarannya.
b. Motivasi instrinsik untuk belajar.
 Seperti yang sudah diutarakan pada contoh sebelumnya, Santika adalah seorang murid yang aktif, dan dia sangat berusaha keras untuk dapat mengetahui pembelajaran pada hari itu. Tampak bahwasanya itu merupakan motivasi intrinsik dari dirinya, karena dari hasil pengamatan dia sangat bersemangat pada mata pelajaran seni tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik dari murid tersebut.
c. Efek motivasi terhadap usaha.:
 Miss Wiwik selalu memberikan semangat berupa kata-kata “bagus” kepada setiap murid yang bisa memainkan alat musik pianika dengan sendiri. Dalam hal ini, setiap usaha si anak diberikan reward (penghargaan)
3.      Untuk kelas 2 ,  metode peajaran yang digunakan adalah metode ceramah , guru menerangkan secara lisan kepada siswa tentang apa yang akan dipelajari untuk mencapai tujuan agar siswa cepat mengerti. Dengan ceramah guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi siswa nya.
Dalam segi perspektif motivasi sebagai berikut :
·         Perspektif Behavioral
Di dalam kelas pengajar memberikan latihan soal berbentuk kuis pada siswa dengan imbalan jika dapat menjawab dengan benar makan akan diberi reward berbentuk bintang dibukunya.

·         Dalam perspektif Kognitif
Dapat kita amati di sini pengajar memberikan latihan soal dengan siswa dan mereka sangat antusias mendengarkan arahan dari guru. Bagi siswa yang dapat menjawab nya dengan tepat diberikan reward, ini akan membuat efek postif bagi siswa lainnya dan akan menumbuhkan motivasi untuk mencoba menjawab nya juga.

·         Perspektif Sosial
Di sini mereka dapat lebih dekat dengan pengajar karena sering adanya komunikasi dan hubungan yang baik antara pengajar dan siswa. Karena bagi siswa guru itu adalah orangtua kedua setelah ibu dan ayah mereka di rumah.


Evaluasi
Tugas ini seharusnya sudah di mulai pada bulan maret, tetapi karena adanya beberapa halangan seperti begitu banyaknya tugas kuliah, dan beberapa kegiatan lainnya, hingga kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan kelompok, maka tugas ini pun sempat tertunda. Akhirnya sebelum UTS pada tgl 8 April kelompok baru memiliki waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
Perencanaan awal yang sudah dilakukan cukup  sempurna dan terstruktur, tetapi dalam pelaksanaannya terjadi beberapa kendala. Misalnya observasi diharapkan dapat di mulai pada bulan maret, tetapi pemimpin Yayasan pendidikan Shofiyatul Amaliyah baru memberikan izin pada tgl 4 April. Pada hari-H nya pihak sekolah memberikan waktu kepada kami untuk memasuki kelas dengan waktu 15-30 menit, walaupun kami berhasil memaksimalkan waktu menjadi sekitar satu jam . Secara keseluruhan, tugas observasi ini telah berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa kendala dan hambatan dalam pelaksanaannya.


POSTER










TESTIMONI
Shyntia (16-073) : Tugas observasi tentang leraner-centered dan motivasi untuk anak SD ini merupakan suatu pengalaman baru bagi saya. Dan saya sangat senang melakukan observasi ini ,karena dapat melihat bagaimana proses belajar dan mengajar pada anak-anak di pendidikan sekolah dasar dimana murid-murid yang di observasi masih sangat lucu dan imut. yah, meski ujung-ujungnya akan mengerjakan laporan observasi sih. heheh. Tapi tidak mengapa, karena hal  ini akan menambah wawasan bagi saya sendiri tentang bagaimana cara menyusun laporan hasil observasi.
Angel Muliana Tumanggor (161301074)
            Sebenarnya saya sudah sering melihat bagaimana keadaan siswa-siswi sekolah dasar tetapi pada observasi kali inilah saya baru mengerti bagaimana interaksi tersebut terjadi, motivasi apa yang ada dalam siswa-siswi dan bagaimana proses belajar mengajar siswa-siswi Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Syafiyyatul Amaliyyah. Cukup banyak kendala yang kelompok kami alami namun akhirnya kami dapat melaksanakan observasi ini dengan baik dan lancar. Menurut saya melalui mata kuliah psikoloogi pendidikan ini banyak ilmu yang bisa didapat, pengetahuan yang bertambah membuat saya jadi memahami banyak hal tentang perilaku seorang siswa dan tentu saja menambah pengalaman saya J

Rhesya N. (16-029):  Menurut saya, tugas observasi ini memberikan saya lebih banyak ilmu dan memudahkan saya untuk lebih memahami pengaplikasian teori-teori psikologi pendidikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam hal pengajaran dan pembelajaran.

Risti Devi Mawarny (16-044) : dalam hal ini melakukan sebuah observasi adalah hal yang baru bagi saya , awalnya sedikit cemas apakah kami bisa melakukan observasi ini dengan baik mengingat ada masalah pada surat izin yang memakan waktu sedikit lama juga dari pihak sekolah yang memberikan kepastian yang cukup lama, dimana kelompk lain sudah mulai observasi dan kami belum , namun begitu di hari H saya semakin bersemangat untuk mencoba hal baru ini , dan ini sungguh menyenangkan walaupun sedikit ribet diawal dan akhir , namun ini menambah ilmu bagi saya.

Sri Ulfa (16-040)
Menurut saya tugas observasi ini sangat berguna bagi saya karena dapat  menambah wawasan saya dan juga pengalaman saya. Pengalaman bisa bercengkrama dan berinteraksi langsung dengan anak-anak SD di YPSA, dan juga bisa bermain bersama mereka. Dan dapat mempermudah saya untuk lebih mengetahui pengaplikasian teori psikologi pendidikan di dunia pendidikan.

Muftyanti Arishwandini (16-065)
Menurut saya tugas observasi ini merupakn tugas yangg seru dan menarik. Dimana dalam pelaksanaan tugas ini kami mendapat tantangan yang cukup berat, mulai dari survey ke sekolah untuk menyakan ketersediaan sekolah, mengurus surat izin sampai dengan melakukan observasi. Ketika surat izin telah diterima, kami juga mengalami sediikt cekcok dalam menentukan judul observasi dan landasan teori observasi. Namun semua peristwa tersebut mengajarkan kami untuk tetap bekerjasama, mengendalikan ego satu sma lain dan menjalin kerjasama lebih baik lagi. Tugas ini merupakan tugas pertama bagi kami yang berhubungan dengan lingkungan luar. Dalam tugas ini kami mendapatkan banyak pelajaran, seperti menjalin hubungan dengan kepala sekolajh dan staff pengajar dan juga menjalin kerjasama dengan objek penelitian. Pengalaman ini merupakan pengalaman menarik yang membuat kami mampu mengaplikasikan secara langusng materi psikologi pendidikan yang sudah kami pelajari.

Nada Salsabila (16-043)
Akhirnya saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat didalam ruangan! Bukan sekedar mendapatkan wawasan atau pengalaman tapi inilah maksud dan tujuan saya ketika ingin memasuki dunia perkuliahan. Di mana saya bisa terjun langsung ke dunia nyata untuk membagi apa yang saya dapat dan menggunakannya dengan sebaik mungkin. Sangat menarik!


































Testimoni pembelajaran psikologi pendidikan

Hai bu.. nama saya sri ulfa nim 161301040, saya senang banget sama pelajaran psikologi pendidikan apalagi kalau ibu yang ngajar hehe, karena saya dapat menambah pengetahuan saya tentang bagaimana saja cara penerapan teori dari tokoh-tokoh psikologi pendidikan di kehidupan nyata. Banyak banget manfaat dari belajar psikologi pendidikan. Alhamdulillah saya bisa jadi bagian dari mahasiswa psikologi usu.

Psikologi pendidikan: Apa itu pembelajaran?

Nama: Sri ulfa
Nim: 161301040

APA ITU PEMBELAJARAN?

    Proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika orang ditanya apa fungsi sekolah itu, mereka biasanya akan menjawab, “membantu murid untuk belajar”. Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu sejak lahir, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak harus diajari untuk menelan makanan, berteriak, atau berkedip saat silau. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja. saat anak menggunakan komputer dengan cara baru, bekerja lebih keras dalam memecahkan masalah, mengajukan pertanyaan secara lebih baik, menjelaskan jawaban dengan cara yang lebih logis, atau mendengar dengan lebih perhatian, maka berarti dia sedang menjalani proses belajar.
Pendekatan dalam pembelajaran:
Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).

Teori Behaviorisme:
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu
menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung: anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid menganggu murid lain, dan sebagainya. Proses mental didefinikasikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
pengondisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral. Kedua pandangan ini menekan pembelajaran asosiatif (associative learning), yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (associated). Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan pembelajaran sesuatu di sekolah, seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus.
Aplikasi Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasari yaitu:
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan bagia-bagian
Mementingkan peranan reaksi
Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.


Teori kognitif
Teori kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga yang diungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.ada empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran:pendekatan pertama kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran. Pendekatan kedua, pemprosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Pendekatan keempat, konstruktivis sosial, fokus kepada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.

Psikologi pendidikan: Apa itu motivasi?

Nama: Sri ulfa
Nim:161301040

Tugas Resume Psikologi Pendidikan tentang Apa itu Motivasi.

Apa Motivasi Itu?
   Motivasi adalah proses yang  memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan tahan lama.
Perbandingan motivasi menurut perspektif behavioral, humanistis,kognitif, dan sosial.
Perspektif behavioral tentang motivasi yang menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor utama yang menentukan motivasi murid. Insentif  adalah stimuli atau kejadian positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Perspektif humanistis menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita atau diri kita sendiri, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif dari diri kita. Menurut perspektif humanistis Maslo, ada hierarki motif, dan kebutuhan murid harus dipuaskan dalam urutan tertentu. Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan tersulit dalam hierarki Maslow, melibatkan motivasi untuk mengembangkan potensi manusia secara penuh.
Perspektif kognitif tentang motivasi, pikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini memfokuskan diri pada motivasi internal untuk meraih sesuatu, atribusi, keyakinan murid bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan secara efektif, dan dapat menentukan tujuan, merencanakan, dan memonitor kemajuan mereka ke arah tujuan. Perspektif kognitif mirip dengan konsep motivasi kompetensi R. W. White.
Perspektif sosial menekankan perlunya afiliasi atau keterhubungan yaitu untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.
Proses yang sangat penting dalam motivasi untuk meraih sesuatu
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus.
 Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Secara keseluruhan, kebanyakan pakar merekomendasikan agar guru menciptakan atmosfer kelas di mana murid dapat termotivasi secara intrinsik untuk belajar. Salah satu pandangan dari motivasi intrinsik menekankan karekteristik determinasi diri. Memberi murid beberapa pilihan dan memberi banyak kesempatan untuk tanggung jawab personal akan meningkatkan motivasi intrinsik.
Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang optimal, yang melibatkan penguasaan dan konsentrasi kuat dalam aktivitas. Flow paling  mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka mampu menghadapinya. Dalam beberapa situasi,hadiah dapat melemahkan kinerja. Ketika hadiah dipakai, hadiah itu harus mengandung informasi tentang menguasaan tugas, bukan sebagai kontrol eksternal. Para periset menemukan bahwa saat murid berpindah dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsik mereka terus menurun, terutama saat SMP. Konsep sesuaian lingkungan person menimbulkan perhatian pada kurangnya kesesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan kontrol sekolah yang makin ketat,   yang menyebabkan evaluasi dan sikap negatif terhadap sekolah.
Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memahami perilaku. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi kausal: (1) lokus, (2) stabilitas, dan (3) daya kontrol. Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan penjelasan yang berbeda tentang kegagalan dan kesuksesan. Orientasi penguasaan (mastery) berfokus pada tugas bukan pada kemampuan, dan melibatkan sikap positif dan strategi berorientasi solusi. Orientasi helpless fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukan sikap negatif (seperti rasa bosan dan cemas). Orientasi kinerja lebih memperhatikan hasil daripada proses pencapaiannya.
Self-efficacy (kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Kecemasan yang tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang tak realistis. Kecemasan murid bertambah ketika mereka makin tua dan banyak menghadapi evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan (bagi beberapa murid).
Ekspektasi guru sangat mempengaruhi motivasi dan prestasi murid.

Selayang pandang psikologi pendidikan

Tugas Resume Psikologi Pendidikan
Nama: Sri Ulfa
Nim:161301040
Selayang pandang psikologi pendidikan

Psikologi pendidikan adalah ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa tokoh bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga tokoh terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Yaitu:
William James. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan.
John Dewey. Dia menjadi motor penggerak  untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Pertama, pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner).Kedua,ia mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ketiga, dari Dewey kita mendapat gagasan bahwa anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
E. L. Thorndike. Dia yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan  pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah (penelitian dan riset).
Cara mengajar yang efektif:
       Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel.
Pengetahuan dan keahlian Profesional:
Penguasaan Materi pelajaran: guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
Strategi pengajaran: guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional: guru yang efektif tidak sekedar mengajar di kelas, entah itu dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
Keahlian manajemen kelas: guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
Keahlian Motivasional: guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
Keahlian Komunikasi: guru sangat perlu mempunyai keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian kominikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua murid.
Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan: Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang  kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda.
Keahlian teknologi: Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer kedalam proses mengajar di kelas. Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi dengan baik dan benar.
Komitmen dan motivasi
Riset dalam psikologi pendidikan
Sains bukan didefinisikan oleh apa yang ditelitinya tetapi oleh bagaimana cara investigasi dilakukan. Riset ilmiah bersifat objektif, sistematis dan dapat diuji, mereduksi kemungkinan informasi akan didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan. Riset ilmiah didasarkan pada metode ilmiah, yang terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, dan merevisi kesimpulan dan teori. Sebuah teori adalah seperangkat ide yang dapat membantu menjelaskan dan membuat prediksi. Sebuah teori yang memuat hipotesis.
        Metode pengumpulan data riset dapat diklasifikasikan sebagai metode deskriptif, korelasional, dan eksperimental. Metode deskriptif mencakup observasi, wawancara, kuesioner, tes standar, studi etnografik, dan studi kasus. Prinsip riset penting adalah korelasi tidak sama dengan sebab akibat. Riset eksperimental adalah satu-satunya jenis riset yang dapat mengungkapkan sebab-sebab perilaku.

►

- Copyright © Sriulfa - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -