Testimoni pembelajaran psikologi pendidikan

Hai bu.. nama saya sri ulfa nim 161301040, saya senang banget sama pelajaran psikologi pendidikan apalagi kalau ibu yang ngajar hehe, karena saya dapat menambah pengetahuan saya tentang bagaimana saja cara penerapan teori dari tokoh-tokoh psikologi pendidikan di kehidupan nyata. Banyak banget manfaat dari belajar psikologi pendidikan. Alhamdulillah saya bisa jadi bagian dari mahasiswa psikologi usu.

Psikologi pendidikan: Apa itu pembelajaran?

Nama: Sri ulfa
Nim: 161301040

APA ITU PEMBELAJARAN?

    Proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Ketika orang ditanya apa fungsi sekolah itu, mereka biasanya akan menjawab, “membantu murid untuk belajar”. Pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
Tidak semua yang kita tahu itu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan itu sejak lahir, tidak dipelajari. Misalnya, kita tidak harus diajari untuk menelan makanan, berteriak, atau berkedip saat silau. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja. saat anak menggunakan komputer dengan cara baru, bekerja lebih keras dalam memecahkan masalah, mengajukan pertanyaan secara lebih baik, menjelaskan jawaban dengan cara yang lebih logis, atau mendengar dengan lebih perhatian, maka berarti dia sedang menjalani proses belajar.
Pendekatan dalam pembelajaran:
Teori Behaviorisme
Teori belajar behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).

Teori Behaviorisme:
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu
menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung: anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid menganggu murid lain, dan sebagainya. Proses mental didefinikasikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
pengondisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral. Kedua pandangan ini menekan pembelajaran asosiatif (associative learning), yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (associated). Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan pembelajaran sesuatu di sekolah, seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus.
Aplikasi Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasari yaitu:
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan bagia-bagian
Mementingkan peranan reaksi
Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.


Teori kognitif
Teori kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga yang diungkapkan oleh Winkel (1996:53) bahwa “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.ada empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran:pendekatan pertama kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran. Pendekatan kedua, pemprosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Pendekatan keempat, konstruktivis sosial, fokus kepada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.

Psikologi pendidikan: Apa itu motivasi?

Nama: Sri ulfa
Nim:161301040

Tugas Resume Psikologi Pendidikan tentang Apa itu Motivasi.

Apa Motivasi Itu?
   Motivasi adalah proses yang  memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan tahan lama.
Perbandingan motivasi menurut perspektif behavioral, humanistis,kognitif, dan sosial.
Perspektif behavioral tentang motivasi yang menekankan bahwa imbalan dan hukuman eksternal adalah faktor utama yang menentukan motivasi murid. Insentif  adalah stimuli atau kejadian positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Perspektif humanistis menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita atau diri kita sendiri, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif dari diri kita. Menurut perspektif humanistis Maslo, ada hierarki motif, dan kebutuhan murid harus dipuaskan dalam urutan tertentu. Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan tersulit dalam hierarki Maslow, melibatkan motivasi untuk mengembangkan potensi manusia secara penuh.
Perspektif kognitif tentang motivasi, pikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini memfokuskan diri pada motivasi internal untuk meraih sesuatu, atribusi, keyakinan murid bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan secara efektif, dan dapat menentukan tujuan, merencanakan, dan memonitor kemajuan mereka ke arah tujuan. Perspektif kognitif mirip dengan konsep motivasi kompetensi R. W. White.
Perspektif sosial menekankan perlunya afiliasi atau keterhubungan yaitu untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab.
Proses yang sangat penting dalam motivasi untuk meraih sesuatu
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan atau hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras untuk mendapatkan nilai yang bagus.
 Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Secara keseluruhan, kebanyakan pakar merekomendasikan agar guru menciptakan atmosfer kelas di mana murid dapat termotivasi secara intrinsik untuk belajar. Salah satu pandangan dari motivasi intrinsik menekankan karekteristik determinasi diri. Memberi murid beberapa pilihan dan memberi banyak kesempatan untuk tanggung jawab personal akan meningkatkan motivasi intrinsik.
Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang optimal, yang melibatkan penguasaan dan konsentrasi kuat dalam aktivitas. Flow paling  mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka mampu menghadapinya. Dalam beberapa situasi,hadiah dapat melemahkan kinerja. Ketika hadiah dipakai, hadiah itu harus mengandung informasi tentang menguasaan tugas, bukan sebagai kontrol eksternal. Para periset menemukan bahwa saat murid berpindah dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsik mereka terus menurun, terutama saat SMP. Konsep sesuaian lingkungan person menimbulkan perhatian pada kurangnya kesesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan kontrol sekolah yang makin ketat,   yang menyebabkan evaluasi dan sikap negatif terhadap sekolah.
Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memahami perilaku. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi kausal: (1) lokus, (2) stabilitas, dan (3) daya kontrol. Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan penjelasan yang berbeda tentang kegagalan dan kesuksesan. Orientasi penguasaan (mastery) berfokus pada tugas bukan pada kemampuan, dan melibatkan sikap positif dan strategi berorientasi solusi. Orientasi helpless fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukan sikap negatif (seperti rasa bosan dan cemas). Orientasi kinerja lebih memperhatikan hasil daripada proses pencapaiannya.
Self-efficacy (kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Kecemasan yang tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang tak realistis. Kecemasan murid bertambah ketika mereka makin tua dan banyak menghadapi evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan (bagi beberapa murid).
Ekspektasi guru sangat mempengaruhi motivasi dan prestasi murid.

Selayang pandang psikologi pendidikan

Tugas Resume Psikologi Pendidikan
Nama: Sri Ulfa
Nim:161301040
Selayang pandang psikologi pendidikan

Psikologi pendidikan adalah ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa tokoh bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga tokoh terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan. Yaitu:
William James. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan.
John Dewey. Dia menjadi motor penggerak  untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Pertama, pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner).Kedua,ia mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ketiga, dari Dewey kita mendapat gagasan bahwa anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
E. L. Thorndike. Dia yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan  pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah (penelitian dan riset).
Cara mengajar yang efektif:
       Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel.
Pengetahuan dan keahlian Profesional:
Penguasaan Materi pelajaran: guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
Strategi pengajaran: guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional: guru yang efektif tidak sekedar mengajar di kelas, entah itu dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
Keahlian manajemen kelas: guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
Keahlian Motivasional: guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
Keahlian Komunikasi: guru sangat perlu mempunyai keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari murid, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian kominikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua murid.
Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan: Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang  kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Guru yang efektif mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang berbeda.
Keahlian teknologi: Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer kedalam proses mengajar di kelas. Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi dengan baik dan benar.
Komitmen dan motivasi
Riset dalam psikologi pendidikan
Sains bukan didefinisikan oleh apa yang ditelitinya tetapi oleh bagaimana cara investigasi dilakukan. Riset ilmiah bersifat objektif, sistematis dan dapat diuji, mereduksi kemungkinan informasi akan didasarkan pada keyakinan, opini, dan perasaan. Riset ilmiah didasarkan pada metode ilmiah, yang terdiri dari beberapa langkah: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, dan merevisi kesimpulan dan teori. Sebuah teori adalah seperangkat ide yang dapat membantu menjelaskan dan membuat prediksi. Sebuah teori yang memuat hipotesis.
        Metode pengumpulan data riset dapat diklasifikasikan sebagai metode deskriptif, korelasional, dan eksperimental. Metode deskriptif mencakup observasi, wawancara, kuesioner, tes standar, studi etnografik, dan studi kasus. Prinsip riset penting adalah korelasi tidak sama dengan sebab akibat. Riset eksperimental adalah satu-satunya jenis riset yang dapat mengungkapkan sebab-sebab perilaku.

Implikasi Pendidikan dalam Tahap Perkembangan

Pada kesempatan kali ini saya akan memposting tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan tentang Bagaimana Implikasi Pendidikan dalam Tahap Perkembangan. Nama saya Sri Ulfa NIM: 161301040

Bagaimana Implikasi Pendidikan dalam Tahap Perkembangan
1. Masa kanak-kanak (masa prasekolah) usia 2-6 tahun
Pada periode ini suasana pendidikan yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih(mengasihi), asah(memahirkan), dan asuh(membimbing). Anak dapat bertumbuh dengan baik jika mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi damai dan harmoni. Kegiatan pembelajaran itu bagaikan kegiatan-kegiatan yang disengaja, namun sekaligus alamiah seperti bermain “ditaman” bermain sambil belajar yang memungkinkan anak belajar dalam dunia permainan yang dapat memperluas pengetahuan dan sosial antar sesama.
Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode yaitu:
1. Bercerita: bercerita sebaiknya diberikan semenarik mungkin dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai.
2. Bernyanyi: bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Bernyanyi dapat menumbuhkan rasa estetika.
3. Berdarmawisata: kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang dibahas di lingkungan kehidupan anak.untuk melihat, mendengar, merasakan, mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. Bisa berdarmawisata ke pasar, sawah, pantai, kebun, dan lainnya.
4. Bermain peran: merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain disekitarnya. Hal ini dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan anak.
5. Peragaan/Demontrasi: kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dulu, kemudian ditirukan anak-anak. Hal ini dapat melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar.
6. Pemberian tugas: merupakan metode yang memberikan kesempatan pada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan tuntas.
7. Latihan: kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntuk kooardinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan.

2. Masa kanak-kanak Akhir ( usia 6-12 tahun)
Pada periode ini, tahap kognitif anak usia SD sudah berada pada tahap operasional-konkret.
Mereka mampu berpikir logis tentang suatu objek dan kejadian, mampu mengklarifikasi objek, dan menguasai konversi jumlah dan berat.
Beberapa cara pembelajaran yang diharapkan untuk para pendidik dalam pengajaran anak usia SD:
Cara pembelajaran yang lebih terbuka, lansung memberikan kesempatan anak berperan dalam mengoptimalkan perkembangan fisik, kognitif dan moral mereka.
Program pembelajaran yang fleksibel dan tidak kaku serta membedakan perbedaan individu, tidak monoton.
Menerapkan banyak alat peraga ataupun objek dalam pembelajaran.
Memuji anak ketika mereka berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik dan menyemangati mereka bila belum melakukan sesuatu secara optimal.
Menyampaikan segala sesuatu yang baik dalam pembelajaran karena pada periode ini, anak usia SD akan patuh pada orang yang dihormati.
Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai kegiatan sekolah.
Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan,mendorong rasa ingintahu mereka.
Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak,tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain.

3. Masa Remaja (adolescense) 11/12 tahun – 18/24 tahun
Pada tahap ini, peserta didik sudah mampu berpikir abstrak dan logis, dengan menggunakan simbol-simbol tertentu atau mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkrit, seperti peningkatan kemampuan analisis, kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan dua atau lebih kemungkinan yang ada, kemampuan menarik generalisasi dan inferensasi dari berbagai kategori objek yang beragam. Selain itu, ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dalam bahasa dan perkembangan konseptual.
Cara berfikir kausatif. Hal ini menyangkut tentang hubungan sebab akibat. Peserta didik sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil. Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis.
Masa remaja awal ini merupakan puncak emosionalitas bagi peserta didik, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama ogran seksual mempengaruhi perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan tempramental.
Pada tahap ini masa SMP dan SMA juga termasuk dalam periode adolscense ini
Pada Periode ini, Implikasi Pendidikan yang baik dan Tepat bagi Peserta Didik (SMP) yaitu, antara lain:
1. Bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat peserta didik . Pembelajaran  akan berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik peserta didik  sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.
2. Guru mampu meramu pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik yang dipadukan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran, sehingga akan dapat membantu peserta didik untuk melalukan eksplorasi dan elaborasi dalam rangka membangun konsep.
3. Guru harus memberi materi pelajaran yang merangsang dan menantang, kadang para peserta didik merasa bosan dan tidak tertarik dengan materi yang sedang diajarkan. Untuk menghindari gejala yang seperti ini guru harus memilih dan mengorganisir materi sedemikikan rupa sehingga merangsang dan menantang siswa untuk mempelajarinya.
4. Berikan penguatan kepada peserta didik, penguatan atau reinforcement mempunyai efek yang besar jika sering diberikan kepada peserta didik. Setiap keberhasilan siswa sekecil apapun, hendaknya ditanggapi dengan memberikan penghargaan.
5. Guru mendorong peserta didik untuk berfikir, melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan mendorong peserta didik untuk bertanya sesama teman.
6. Perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir peserta didik (remaja).
7. Orang tua harus mampu menangani masalah si anak (Peserta didik) dengan melakukan pendekatan yang baik, bukan dengan memarahi atau yang dapat membuat si anak tidak mau menceritakan masalah nya kepada orang tua sendiri, sehingga pada akhirnya si anak akan mengambil keputusan sendiri, dan salah mengambil keputusan.
Guru memberikan tugas-tugas kepada peserta didik yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan
Implikasi Pendidikan untuk anak usia SMA
Beberapa ciri yang kita harus tahu terlebih dahulu yang terjadi di usia ini ialah :
- Aktifnya hormone seksual
- Emosi yang tidak stabil,berubah-ubah dan cenderung meledak- ledak.
- Mulai tertarik atau berteman dengan lawan jenis
Adapun dilihat dari perkembangan kognitifnya ialah operasional.
- Mampu berfikir logil mengenai suatu yang abstrak
- Menaruh perhatian tentang masa depan,konsep,hipotesis
- Pola pikir cenderung egoisentris
- Perkembangan identitas diri (biasanya ia mencara idolanya atau tokoh yang ia senangi)
Pada periode ini motivasi merupakan tenaga dorong untuk :
Mencari dan menemukan nformasi mengenai hal hal yang dipelajari
Menyerap informasi dan mengolahnya
Mengubah informasi yang di dapat menjadi suatu hasil
Menerapkan hasil ini dalam kehidupan
Agar motivasi ini dapat terpelihara pendidik perlu menciptakan suasana belajar yang positif dan menyajikan langkah langkah  yang mendorong peserta didik untuk ingin belajar dan ingin menerapkan hal hal yang dipelajari , seperti:

Menciptakan Suasana Belajar Yang Positif
Pengajar menciptakan suasana pemecahan masalah orang dewasa di dalam kelas
Pengajar bersifat empatik , dengan menunjukan bahwa pengajar memahami situasi , perasaan dan kebutuhan peserta didik
Pengajar berperilaku sebagai dirinya sendiri , tidak perlu berpura pura atau berlagak profesional. Membuka diri dan membagi pengalaman sebagai ilustrasi atau contoh ide ide dapat besar manfaatnya, dan dapat membantu empati
Pengajar memusatkan masalah pada kebutuhan dan masalah masalah peserta didik , bukan pada hal hal yang ditentukan sebelumnya.
Kegiatan kegiatan harus dirancang sedemikian rupa sehingga memperjelas tujuan belajar masing masing peserta dan membantu mereka untuk merenanakan penerapannya
Tidak selalu memakai metode punishment karena dimasa ini mereka sudah mengenal mana yang baik dan mana yang tidak baik. Lebih membuat briefing atau arahan motivasi kepada mereka agar bisa mencapai apa yang mereka inginkan di masa depan. Terutama pada orang yang disekitar mereka.
Biarkan mereka mengeluarkan bakat seni atau potensi-potensi dalam diri mereka. Masa SMA ini biasanya aktif dengan ekstrakulikuler. Peran yang harus diambil ialah mendukung mereka dan memberikan masukan yang positif serta arahan. Dan berikan pengertian apa yang terjadi jika mereka terlalu fokus dengan kegiatan tersebut pada konsentrasi belajar mereka.

Kunjungi juga blog anggota kelompok 4 lainnya dalam Mata Kuliah Psikologi Pendidikan ini ya :)
Risti (16-044)
Muftiyanti (16-065)
Angel (16-074)
Shintya (16-073)
Rhesya (16-029)
Nada (16-043)

Psi. Pendidikan

Lerning/pembelajaran ialah suatu perubahan perilaku yang relative permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Namun, tidak semua peruahan perilaku merupakan hasil belajar. Perubahan perilaku karena obat,kelelahan dan luka bukan termasuk belajar.
Pengkondisian Klasik
Tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli netral menjadi diasosiasikan dengan stimuli bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa. Seperti Ivan Pavlov yang menguji anjingnya dengan bunyi bel.
Pengkondisian Operan
Tipe belajar dimana konsekuensi dari perilaku mengarah pada perubahan probabilitas terjadinya perilaku. Ada 3 macam konsekuensi ; penguat positif,penguat negative dan punishment/ hukuman.
Penguat positive biasanya menggunakan reward
Penguat negative berupa shaping (membentuk prilaku)
Punishment/hukuman biasanya menyakitkan dan dapat menimbulkan rasa traumatic atau dendam.
Pendekatan Kognitif
Belajar ialah proses mental aktif yang memperoleh mengingat dan menggunakan pengetahuan.

Sebelumnya ini adalah tugas kelompok 4 yang akan memberikan contoh dari masing-masing pembelajaran berdasarkan pengalaman pribadi.
1. Mitiyanti Arishwandini (16-065)
Classical conditioning : Saya memiliki adik yang ketika berusia 3 tahun tiba-tiba diserang oleh kumbang yang menyebabkan luka-luka pada tangannya. Sebelumnya ia tidak takut oleh kumbang namun setelah kejadian tersebut dia akan berteriak dan menangis setiap kali melihat kumbang.

Operant conditioning : ketika umur 6 tahun saya diajarkan sholat, seelah berusia 10 tahun orang tua saya mengharuskan saya untuk sholat 5 waktu jika saya tidak ingin maka saya akan dimarahi oleh orangtua dan saya tidak suka di marahi sampai saya melakukan sholat 5 waktu setiap kali disuruh. Sekarang saya akan melakukan sholat 5 waktu walau tanpa disuruh orang tua.

2. Rhesya Nurvianty (16-029)
Classical Conditioning:
Ketika saya kelas 5 Sekolah Dasar, saat sedang menonton televisi, saya mendengar suara klakson sepeda motor dari luar rumah yang ternyata adalah suara klakson sepeda motor ayah. Saya kemudian membukakan pintu gerbang supaya ayah bisa masuk. Keesokan harinya, Saya mendengar suara klakson sepeda motor lagi dan saya lalu bergegas menuju pintu gerbang untuk membukanya.
Operant Conditioning:
Suatu hari ketika saya datang terlambat ke sekolah, bu guru memberikan hukuman kepada saya yang mengharuskan saya berdiri di depan kelas sampai bel waktu istirahat berbunyi. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi datang terlambat ke sekolah.
Kognitive Conditioning:
Ketika saya masih kecil, ibu saya selalu menghidupkan musik di pagi hari dengan volume yang cukup kuat supaya anak-anaknya cepat bangun. Karena hal itu, saya selalu bangun pagi sampai saat ini.

3. Angel Muliana Tumanggor (161301074)
TEORI CLASSICAL CONDITIONING
- Ketika saya masih kecil saya, saya mendengar suara bel yang dihasilkan oleh penjual eskrim saya akan merasa haus dan berlari mengejar penjual eskrim tersebut
- Saat ibu saya memasak makanan kesukaan saya dan saya mencium aroma masakan tersebut maka saya tiba-tiba merasa lapar
TEORI OPERANT CONDITIONING
- Saya akan dimarahi oleh orangtua saya jika saya pulang malam tanpa memberi kabar kepada orangtua saya
TEORI KOGNITIF
- Ketika ibu saya mengajari saya memasak maka saya akan mengingat ajaran itu di lain waktu

4. Shyntia Eka Putri Pasaribu (16-073)
Teori kognitif: belajar di pandang sebagai upaya untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru melalui proses pengolahan informasi dan akhirnya informasi tersebut disimpan dalam memori jangka panjang, yang pada suatu ketika informasi tersebut dapat di panggil kembali jika diperlukan.
- Pada saat saya mengikuti kegiatan workshop debat, dimana di dalam acara tersebut ada perkenalan dengan kaka-kaka senior saya di perkuliahan yang memiliki prestasi di dalam rangka perdebatan, saya memiliki keyakinan untuk bias seperti mereka. Dan akhirnya di acara terakhir yaitu percobaan debat, saya tertantang ikut serta sebagai peserta untuk mengasah kemampuan saya sedikit demi sedikit.
- Waktu SD saya belajar reaksi kimia fotosintesis, dimana sang guru menjelaskan reaksi kimia tersebut dengan metode pembelajaran menggunakan bahan bergambar. Misal CO2, gambarnya air, dll. Sehingga jika sampai sekarang ilmu itu akan disinggung, saya tetap dapat mengingatnya kembali dalam arti saya mengingat nya dalam memori jangka panjang saya.

Pengkondisian klasikal: adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral di asosiasikan dengan stimulus yag bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama.
- Pada saat ayah saya terbangun pada pagi hari, saya selalu di suruh untuk membuat kopi. Dan pada hari berikutnya tanpa di suruh, saya langsung membuat kopi kepada ayah saya. Sehingga respon yang sama yang saya lakukan adalah membuat kopi (CS).

Pengkodisian operant: juga dinamakan pengkondisian instrumental adalah bentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan di ulangi.
- Ketika guru saya di SMA memuji hasil tugas geografi saya dengan bagus, saya menjadi lebih tertarik untuk berusaha meningkatkan pengerjaan tugas saya selanjutnya, agar saya mendapat pujian lagi.
- Ayah dan kaka saya akan memberikan saya hadiah, jika ip saya di semester 2 tetap di atas 3,5. Sehingga itu memotivasi saya untuk belajar di dalam perkuliahan.

5. Risti Devi Mawarni (16-044)
Contoh Classical Conditioning
Devi dulu paling malas membersihkan rumah , namun abang Devi kemudian selalu mengajaknya untuk membereskan rumah setiap jam setengah 6 dan ajakan itu terus dilakukan terus menerus oleh abang nya sehingga menjadi sebuah kebiasaan bagi Devi ketika melihat jam sudah mennjukkan angka setengan 6 dia akan langsung bergegas untuk membereskan rumah.
Contoh Opperant
Dimas sewaktu kecil paling malas untuk meletakkan kembali piring bekas makannya ke dalam wastafel setiap makan dia akan langsung pergi meninggalkannya di tempat dia makan , namun pada suatu hari sang ibu menyuruhnya untuk menaruh piring bekas makanannya dan memuji nya ketika ia melakukannya, Dimas pun merasa senang akan pujian itu setiap kali ia melakukannya , dan pada akhirnya Dimas pun terbiasa melakukan hal itu meskipun sang ibu tidak memuji nya lagi.
Contoh Kognitiv Conditioning
Devi sangat ingin bisa menaiki sepeda seperti teman teman sebayanya, lalu dia meminta abang nya untuk mengajari nya bagaimana mengendarai sepeda. Abangnya pun memberitahu langkah langkah awal apa saja yang harus dilakukan Devi , ia pun mencobanya dan ia bisa lantas ia belajar sendiri bagaimana menguasai sepeda tersebut dengan benar dari penjelasan awal abang nya tadi.

6. Sri Ulfa (16-040)
Contoh operant conditioning
Positive Reinforcement:
Contoh: didit ingin bergabung dalam tim futsal fakultasnya, ayahnya kemudian berjanji akan membelikan sepatu baru jika ia berhasil masuk dalam tim futsal dan menjadi pemain inti. Ketika penyeleksian, Didit berusaha maksimal untuk bisa bergabung dalam tim tersebut, hingga pada akhirnya ia berhasil dan mendapat hadiah sepatu baru dari ayahnya.
Negative Reinforcement:
Contoh: ketika pelajaran matematika, Aswar memilih untuk tidak masuk sekolah karena gurunya yang galak. Agar tidak mendapat hukuman dari gurunya, ibu Aswar melampirkan surat keterangan sakit ke sekolah sebagai alasan bahwa Aswar harus beristirahat di rumah.
Punishment: memberikan hukuman dan menghilangkan perilaku yang tidak disenangi.
Contoh: Eki selalu malas membawa baju lab dari rumah ketika akan praktikum dan lebih memilih untuk meminjam baju lap milik temannya yang rumahnya tidak jauh dari kampus. Beberapa waktu setelah itu, ketika ia meminjam lagi baju lab milik temannya, ternyata baju lab tersebut juga digunakan oleh temannya. Hal ini membuat Eki harus dikeluarkan dari laboratium karna tidak memakai baju lab, sehingga pada praktikum selanjutnya ia tidak meminjam punya temannya lagi melainkan selalu membawa miliknya.
Extinction: hilangnya respon dan beberapa saat waktu tidak lagi diperkuat, karena itu, tingkah laku tersebut berhenti untuk muncul.
Contoh: Maria adalah seorang anak manja, ia selalu bergantung kepada ibunya jika akan melakukan sesuatu. Hari pertama sekolah, ia minta diantar ibunya hingga seminggu penuh. Sampai akhirnya, ibu maria harus ke kanto, lalu ia berusaha untuk ke sekolah sendiri walaupun dengan perasaan yang berdebar-debar, keesokan harinya ia masih sendiri ke sekolah hingga akhirnya ia terbiasa untuk ke sekolah sendiri.
Classical Conditioning
Contoh: dari pengalaman pribadi
Ketika ayah saya pulang kerja dan saya mendengar suara deru mobil nya berhenti dibagasi depan rumah, spontan saya langsung membuka pintu rumah dan menyambut ayah saya.
Contoh kognitif: ketika kita mendengarkan musik yang kita suka, secara otomatis kita akan hapal dengan liriknya. Dan disaat kita mendengarkan musik tersebut secara tidak sengaja, maka kita akan langsung menyanyikan lagu tersebut.

7. Nada Salsabila (16-043)
Classical conditioning
- Hp itu seperti nyawa kedua buat saya. Kemanapun saya pasti selalu pegang Hp dan ya gapernah lepas kecuali pergi mandi atau sholat atau belajar. Terlalu banya berinteraksi dengan hp apalagi dunia social media. Nah karena terus-terusan nih suka main hp jadinya kalau denger ada suara notification atau nada dering jadi langsung ngeliat hp padahal gaada apa-apa.

Operant conditioning :
- (penguat positif) waktu itu selesai sholat Nada selalu membaca Al-qur’an dan mendapati wajah Abi tersenyum sambil memuji. Nada senang melihat Abi muji sambil senyum jadinya setiap selesai sholat Nada selalu baca Al-Qur’an.
- (penguat negative) Setiap ada hari kosong atau libur umi selalu ngajak Nada untuk ta’lim(pengajian) tapi nada males lalu umi bilang kalau nada tidak mau ikut umi bakal tahan uang jajan Nada karena umi ngajaknya kesurga bukan ketempat maksiat. Semenjak itu setiap umi ajak Nada untuk ta’lim nada selalu ikut.
- (hukuman) Waktu Nada masih TK pernah dikasih pr yang soalnya hidtung-hitungan. Nada lemah dalam matematika dan selalu ga tau jawabannya. Waktu itu ngerjainnya bareng sama umi alhasil karna Nada selalu gatau jawabnnya nada dikurung didalam kamar mandi dan semenjak itu nada gamau belajar sama umi lagi…


Kognitif:
 akhir-akhir ini nada lagi suka belajar masak. Nah belajar masaknya melalui internet. Mencari bahan-bahannya juga lewat internet karna jarang dikasi penjelasan yang rinci jadinya nada coba-cobain sendiri dan akhirnya jadi tembah pengetahuan.

Semoga bermanfaat😊😊😊

- Copyright © Sriulfa - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -